Sofa dari Ujung Dunia

Menguji sofa baru kami, dirancang & dibuat oleh tim virtual kami

Setahun yang lalu, kamar-kamar sudah dibangun tetapi masih kosong. Kami tahu kami membutuhkan sofa, tetapi furnitur tidak mudah ditemukan di sini. Dan furnitur berkualitas tinggi — yang saya maksud setara kualitas Salone Milan — sama sekali tidak ada di Indonesia, apalagi di lokasi pantai kami yang terpencil.

Kami tidak memiliki workshop, tidak ada rantai pasokan, dan tidak akan pernah ada truk pengiriman yang datang membawa sofa indah untuk kami. Jelas bahwa jika kami ingin furnitur berkualitas untuk tamu kami, kami harus membuatnya sendiri.

Lalu suatu malam, saat menjelajah online dari Eropa, sebuah foto muncul — sebuah sofa dengan keseimbangan tenang antara klasik dan modern, sederhana namun mengundang. Rasanya seperti sesuatu yang memang seharusnya ada di ipyum. Dari situlah ide itu muncul: jika kami tidak bisa membawanya ke sini, mungkin kami bisa membuatnya.

Desainnya terlihat cukup sederhana untuk direkayasa ulang. Kami mengukur, memperkirakan, dan mengirim sketsa melintasi setengah dunia. Komaria mengoordinasikan dari Papua Barat, bekerja sama dengan tukang kayu kami yang hanya memiliki beberapa alat tangan dan sebuah meja gergaji kecil yang dimodifikasi dari gergaji sirkular. Kayu yang kami gunakan adalah kayu besi — padat, indah, dan hampir tidak bisa dihancurkan. Sulit dikerjakan, tetapi sempurna untuk iklim tropis.

Rangka sofa dibuat dan kemudian dibiarkan di dalam kamar selama berbulan-bulan sementara kami fokus pada bagian lain dari proyek. Lalu kami menemukan bahwa pewarna merah berat yang tersembunyi jauh di dalam kayu — yang bisa merusak bantalan putih klasik — dapat dikeluarkan dengan membiarkan kayu terkena hujan dan matahari untuk beberapa waktu. Jadi selama berbulan-bulan, rangka tersebut berada di pantai, mengalami proses alami di bawah cahaya tropis dan udara laut hingga minyak dan pigmen alaminya akhirnya memudar.

Sementara itu, di Jawa Timur, sebuah usaha jahit keluarga kecil — dipimpin oleh tetangga Komaria — mulai berkembang menjadi sesuatu yang baru. Tidak ada yang pernah membuat bantalan sofa sebelumnya, tetapi dengan arahan, ketekunan, banyak percobaan, dan bantuan dari saudara Komaria, mereka berhasil menguasainya. Bantalan dibuat satu per satu, diisi, dijahit, dan dikemas untuk perjalanan panjang ke timur.

Ketika semuanya akhirnya bertemu — rangka dari Papua dan bantalan dari Jawa — hasilnya lebih dari sekadar sebuah furnitur. Ini adalah kolaborasi antar pulau dan antar manusia, antara improvisasi dan keterampilan.

Sore ini, tim duduk di sofa yang telah selesai untuk pertama kalinya. Seseorang tersenyum, seseorang tertawa, dan tiba-tiba semuanya terasa lengkap. Foto yang kami ambil — bersama, santai, dan bangga — menggambarkan semuanya tanpa perlu kata-kata.

Segera, setiap sofa akan memiliki label kecil khusus bertuliskan ipyum. Sebuah tanda sederhana untuk sesuatu yang membutuhkan satu tahun, sebuah komunitas, dan begitu banyak hati untuk mewujudkannya — di sini, di ujung dunia.

Previous
Previous

Perjalanan Belajar Lili