Kepiting bakau membantu mengukur pasang tertinggi tahun ini

Pada 7 Desember pukul 19.00, kami mengalami pasang laut tertinggi tahun ini. Foto ini berbicara dengan jelas: air laut naik hingga sekitar 50 cm di atas permukaan tanah di patok batas lahan kami.

Bagi ipyum, ini bukan sekadar ketidaknyamanan. Genangan air laut yang terjadi secara rutin:

  • merusak bangunan dan infrastruktur,

  • menyulitkan aktivitas sehari-hari,

  • dan yang paling menyakitkan, mematikan apa pun yang kami coba tanam di tanah.

Setengah-setengah tidak akan berhasil. Satu kali banjir saja cukup untuk mematikan seluruh tanaman.

Karena itu, solusi ini harus benar-benar tuntas — bukan solusi sebagian.

Bertani vs. Pasang Laut

Kebun dapur kami sudah berkali-kali gagal. Air asin tidak memberi ampun. Itulah sebabnya, saat ini, sayuran kami hidup di sesuatu yang bisa dibilang kurang elegan tapi efektif: polybag hitam, ditinggikan di atas rak dan tiang.

Cara ini berhasil — tetapi ini bukan pertanian yang sejak awal kami bayangkan.

Ide Tanggul (dan Mengapa Kami Mengubah Arah)

Awalnya, solusi yang paling jelas adalah membangun tanggul menggunakan alat berat. Namun alat berat mahal, mengganggu lingkungan, dan tidak selalu realistis di tempat seperti Raja Ampat.

Setelah banyak berpikir (dan menggaruk kepala), kami yakin bahwa jawaban yang tepat adalah tanggul rendah yang menyambung tanpa celah, dibangun secara manual menggunakan karung pasir.

Inti pemikirannya sederhana:

  • 50 cm genangan adalah kondisi ekstrem.

  • Sebagian besar pasang hanya membawa air beberapa sentimeter ke daratan.

Artinya, tanggul yang sederhana, selama menyatu dan dirancang dengan baik, dapat mengatasi sebagian besar masalah.

Tantangan: Skala dan Tenaga

ipyum itu luas.

  • Tahap 1 tanggul: 350–400 meter (mengelilingi area kami saat ini)

  • Pembangunan penuh ke depan: ±750 meter dari ujung ke ujung

Itu berarti pasir dalam jumlah besar. Sangat besar. Digali, dipindahkan, dan diisi secara manual.

Pekerjaan berat — kecuali kami bekerja dengan cerdas.

Inovasi DIY Kami

Alih-alih menumpuk karung pasir kecil tanpa akhir, kami mengembangkan sistem karung pasir berbentuk khusus dari geotekstil tebal yang tersedia di Indonesia.

Gagasannya:

  • Bentuk karung mengikuti bentuk akhir tanggul

  • Jumlah unit lebih sedikit, stabilitas lebih baik

  • Cukup kuat untuk menahan pasir berat tanpa melendut

Karung pasir biasa tetap akan digunakan di bagian bawah untuk meratakan dan menyiapkan tanah, tetapi struktur utama akan menggunakan karung tanggul geotekstil berbentuk memanjang ini.

Produk komersial sejenis memang ada — dan harganya terlalu mahal bagi kami.

Jadi, seperti banyak hal lain di ipyum, kami akan merancang dan membangunnya sendiri.

Mengapa Ini Sepadan

Tanggul ini hanya setinggi sekitar 50 cm, tetapi dampaknya akan sangat besar:

  • Banjir air laut akan dihilangkan

  • Pertanian di tanah akhirnya bisa dilakukan

  • Area mangrove dapat dibatasi (dengan cara yang sopan)

Inilah perbedaan antara terus berimprovisasi — dan akhirnya membangun pertanian yang sejak awal kami rencanakan.

Belajar dengan Cara ipyum

Kami tahu ini tidak akan sempurna pada percobaan pertama. Kami akan belajar. Kami akan menyesuaikan. Mudah-mudahan pelajarannya tidak terlalu mahal — karena saya bisa sangat crabby jika harus belajar dengan cara yang mahal.

Langkah berikutnya: membuat prototipe tanggul karung pasir DIY berbentuk A. Jika gagal, kami belajar. Jika berhasil, masalah pasang akan benar-benar masuk kantong.

Begitulah cerita ipyum sejak hari pertama.

Previous
Previous

Dibuat oleh ipyum

Next
Next

Rasa Ruang